Tampilkan postingan dengan label Artikel al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel al-Quran. Tampilkan semua postingan

19 April 2009

Mukadimah

Buku yang ada di hadapan pembaca yang mulia ini membahas sumber terpenting syariat Islam, yaitu Al-Quran, undang-undang pertama Allah bagi para pemeluk Islam, dan arti penting Al-Quran di dunia Islam. Maka buku ini secara ringkas membicara­kan apa Al-Quran itu? Apa nilainya bagi kaum Muslimin? AI­Quran adalah sebuah kitab universal yang abadi; Al-Quran adalah wahyu langit dan bukan merupakan hasil pikiran manusia; Al­Quran dan ilmu pengetahuan; dan sifat-sifat Al-Quran.

Pada hakikatnya, dalam bab-bab buku ini kami akan mem­bicarakan sebuah kitab yang tak seorang pun di antara umat Islam meragukan kemuliaan, kesucian dan kedudukannya yang tinggi, kendatipun Islam telah mengalami pertikaian-pertikaian intern, perpecahan mazhab dan silang-sengketa pendapat di antara para pemeluknya, seperti yang telah dialami oleh agama-agama besar yang lain.

Dari itu, dalam pembahasan ini kami bermaksud mengenalkan arti penting Al-Quran sebagaimana yang ditunjukkan oleh AI-Quran sendiri, bukan sebagaimana yang kita percayai dan gambar­kan, Adalah jelas bahwa di antara keduanya terdapat banyak perbedaan bagi orang yang memikirkannya secara mendalam.

Dengan bahasa yang lebih gamblang dapat dikatakan bahwa arti penting Al-Quran yang kita gambarkan - ada dalilnya atau tidak - pasti merupakan salah satu di antara dua hal: Ada kalanya bertentangan dan menyalahi apa yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran, sehingga tidak ada nilainya di alam kebenaran dan kenyataan. Dan ada kalanya tidak dijumpai dalilnya dalam Al-Quran, sehingga tidak mungkin diterima oleh segenap kaum Musli­min, karena adanya perbedaan pendapat di antara mereka sendiri.

Jika demikian, maka arti penting Al-Quran harus diketahui dari ayat-ayat dan dalil-dalil yang terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu, mau tidak mau kita harus memberi jawaban atas pertanyaan berikut: apa yang dikatakan Al-Quran tentang tema ini? Bukan jawaban atas pertanyaan: bagaimana pendapat kita yang mengikuti mazhab anu .....?

Selengkapnya...

Pengantar

Sayyid Ahmad Husaini

Pembahasan dan pengkajian Al-Quran yang dilakukan Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i mempunyai keistimewaan tersendiri. Dalam menjelaskan maksud, pengertian dan makna-makna Al-Quran, terlebih dahulu ia merujuk kepada Al-Quran sendiri, sebelum merujuk kepada sumber-sumber yang lain.

Di antara para mufasir dan orang-orang yang mengkaji ilmu-­ilmu Islam, dahulu maupun sekarang, banyak yang mempunyai prakonsepsi dan endapan-endapan pemikiran yang mereka peroleh dengan jalan mendalami masalah-masalah atau berkenalan dengan aliran-aliran filsafat dan teologi atau dengan mengikuti mazhab­mazhab ilmu kalam dan fiqh tertentu. Kemudian dengan perangkat ilmu yang dimiliki, mereka berusaha untuk menerapkan pra­konsepsi dan endapan-endapan itu pada ayat-ayat Al-Quran dan bersiteguh memahaminya menurut pandangan-pandangan mereka sendiri.

Dalam banyak buku tafsir dan pengkajian yang sampai kepada kita, sedikit pun tidak dijumpai pemikiran untuk membiarkan AI-Quran berbicara sendiri sebelum diusahakan untuk diterapkan pada pandangan-pandangan dan pendapat-pendapat pribadi. Ada buku tafsir yang didominasi pemikiran i'tizali karena pengarangnya menganut mazhab Mu'tazilah. Ada yang terlalu diwamai pemikiran zhahiri karena pengarangnya memeluk mazhab zha­hiriah. Ada pula yang terlalu diwarnai pemikiran filsafati karena ditulis oleh orang yang mengikuti pendapat-pendapat para filosof. Dan ada pula tafsir yang menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah empiris-materialistis, karena pengarangnya ingin menunjukkan pengetahuannya yang memadai tentang ilmu-ilmu pengetahuan modern.

Demikianlah, Al-Quran secara terus menerus diterapkan pada hasil-hasil penemuan ilmiah dan pemikiran dalam bidang filsafat dan hukum. Dan kadang-kadang juga pada hasil-hasil olahrasa.

Yang mengherankan, di antara para mufasir dan orang-orang yang mengkaji Al-Quran, ada yang memastikan bahwa pendapat­nya mengenai satu ayat merupakan pendapat yang paling benar, seakan-akan tidak terbantah dan tidak dapat diragukan. Padahal, seandainya dia merenungkan ayat-ayat lain yang serupa, maka dia akan menemukan kesimpulan yang menentang pendapatnya itu dan menggoyahkan semua kepercayaan dan pendapat yang telah dibangunnya. Sepertinya, ia hidup hanya dengan satu ayat itu saja, sampai-sampai tidak memikirkan konteks dan suasana ayat yang dipelajarinya.

Dari titik tolak ini, kita mengetahui nilai dan pentingnya pembahasan Thabathaba'i dalam pengkajian Al-Quran. Dia tidak fanatik terhadap suatu teori tertentu yang membara di hati dan meresap dalam pikirannya, sehingga tidak memungkinkannya untuk melepaskan diri darinya. Tetapi ia merenungkan secara mendalam ayat-ayat yang sama-sama membahas satu masalah untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dan apa yang dapat disimpul­kan. Kemudian, kesimpulan dari pengkajiannya yang mendalam itu pun menjadi pendapatnya sendiri, tanpa memperhatikan pen­dapat orang lain yang, dalam memahami ayat-ayat AI-Quran, tidak membahasnya secara ilmiah.

Kami tidak bermaksud mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengkaji bermacam-macam pendapat dan teori-teori dalam pe­nafsiran Al-Quran. Tetapi kami ingin mengatakan bahwa ia tidak terpengaruh oleh pendapat-pendapat itu sampai memaksakannya pada Al-Quran dan berusaha dengan segala upaya untuk meng­artikan ayat-ayat Al-Quran dengan pengertian yang tidak benar.

Ini adalah metode yang benar, yang tampak dengan jelas dalam kitab tafsirnya yang besar, Al-Mizan fi Tafsiril Qur'an. Metode ini pulalah yang tampak dalam pembahasannya mengenai beberapa masalah 'Ulumul Qur'an (Ilmu-Ilmu Al-Quran) dalam buku ini. Dalam Mukadimah ia mengatakan: "Dari itu, dalam pembahasan ini kami bermaksud mengenalkan arti penting Al-Quran sebagai­mana yang ditunjukkan oleh Al-Quran sendiri, bukan seperti yang kita percayai dan gambarkan. Adalah jelas bahwa di antara kedua­nya terdapat banyak perbedaan bagi orang yang memikirkannya secara mendalam."

Meskipun tidak baru dalam pasal-pasal pembahasannya, buku ini terasa mengandung kebaruan dalam metode ilmiahnya. Pada waktu membicarakan satu masalah, ia lebih merujuk kepada ayat­ ayat Al-Quran dan menyimpulkan maksudnya, daripada merujuk pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para mufasir dan pengkaji Al-Quran.

Oleh karena itu, dalam mengalihkannya ke dalam bahasa Arab, kami bermaksud mengundang partisipasi para pembaca berbahasa ini dalam pembahasan yang dikemukakan dengan metode baru ini. Kami yakin, pembaca yang mulia akan mendapatkan manfaat yang besar ketika membuka lembar demi lembar buku ini.

Hanya Allah-lah yang dapat memberikan petunjuk menuju jalan kebenaran dan jalan yang lurus.

Sayyid Ahmad Husaini
Penerjemah Parsi ke Arab)
Selengkapnya...

Sang alim dari Tabriz

Oleh Sayyid Husain Nasr

Selama musim panas 1963, ketika Profesor Kenneth Morgan (1) berada di Teheran, kami mengunjungi Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i di Darakah, sebuah desa kecil di sisi pe­gunungan dekat Teheran, tempat alim yang mulia ini menghabis­kan bulan-bulan musim panas, menyingkir dari panas kota Qum, kediamannya. Pertemuan itu dicengkam dengan kehadiran seorang laki-laki yang rendah hati yang telah membaktikan segenap hidup­nya untuk mengkaji agama. Di dalam dirinya, kerendahhatian dan kemampuan analisis intelektual bergabung ..... Dalam kelompok ulama tradisional,(2) Allamah Thabathaba'i memiliki kelebihan sebagai seorang Syaikh dalam bidang Syariat dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang hakim (filosof atau, tepatnya, teosof Islam tradisional) terkemuka.

Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i dilahirkan di Tabriz pada tahun 1321 Hijriah atau 1903 Masehi, di suatu keluarga keturunan Nabi Muhammad - yang selama empatbelas generasi telah menghasilkan ulama-ulama Islam terkemuka. Ia memperoleh pendidikan dirinya di kota kediamannya, menguasai unsur-unsur bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama, dan pada umur duapuluh tahun berangkat ke Universitas Najaf untuk melanjutkan pelajaran-pelajarannya. Sebagian besar murid di madrasah-madrasah itu mengikuti cabang ilmu-ilmu naqliah, khususnya ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Syariat, yurisprudensi (fiqh) dan prinsip-prinsip yurisprudensi (ushul al-fiqh). Meskipun demikian, Allamah T'habathaba'i berusaha menguasai kedua cabang ilmu tradisional itu sekaligus: naqliah dan aqliah (intelektual). Dia mempelajari Syariat dan ushul al-fiqh dari dua di antara syaikh-syaikh terkemuka masa itu - Mirza Muhammad Husain Na'ini dan Syaikh Muhammad Husain Isfahani. Dia sendiri kemudian menjadi seorang syaikh di bidang itu yang, jika saja ia memusatkan perhatian sepenuhnya di bidang ini, sudah akan menjadi salah seorang mujtahid ataupun ulama Syariat terkemuka, dan sudah akan memberikan banyak pengaruh politis dan sosial.

Tetapi itu bukan tujuannya. Dia lebih tertarik pada ilmu-ilmu aqliah, dan mempelajari dengan tekun seluruh daur matematika tradisional dari Sayyid Abul Qasim Khwansari, dan filsafat Islam tradisional, termasuk naskah baku asy-Syifa karya Ibnu Sina dan al-Asfar karya Sadr al-Din Syirazi serta Tamhid al-Qawa'id karya Ibnu Turkah dari Sayyid Husain Badkuba'i - murid dua orang syaikh terkemuka aliran Teheran, yakni Sayyid Abul Hasan Jilwah dan Aqa' Ali Mudarris Zunuzi.

Sebagai tambahan terhadap pelajaran formal, atau yang oleh sumber-sumber Muslim tradisional disebut sebagai 'ilm hushuli (ilmu yang dicapai lewat upaya belajar secara konvensional), Allamah Thabathaba'i juga mempelajari 'ilm hudhuri (ilmu-ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah SWT), atau ma'rifat, yang melaluinya pengetahuan menjelma menjadi penampakan hakikat-hakikat supranatural. Dia beruntung bisa menemukan seorang Syaikh besar dalam bidang ma'rifat, Mirza Ali Qadhi, yang mulai membimbingnya ke arah rahasia-rahasia Ilahi dan menuntunnya dalam pelancongannya menuju kesempurnaan spiritual. Allamah Thabathaba'i pernah berkata kepada saya bahwa sebelum bertemu dengan Qadhi, ia telah mempelajari Fushush al-Hikam karya Ibn Arabi (3) dan mengira telah benar-benar me­mahaminya. Namun ketika bertemu dengan Syaikh besar ini, ia baru sadar bahwa sebenamya ia belum tahu apa-apa. Ia juga me­ngisahkan kepada saya bahwa ketika Mirza Qadhi mulai mengajar­kan Fushush, seakan-akan dinding-dinding ruangan berbicara tentang hakikat ma'rifat dan ikut menguraikannya. Berkat Sang Syaikh, tahun-tahunnya di Najaf tak hanya menjadi suatu kurun pencapaian intelektual, melainkan juga kezuhudan dan praktek-praktek spiritual yang memampukannya untuk mencapai keadaan realisasi spiritual - yang sering disebut sebagai menjadi terceraikan dari kegelapan batasan-batasan material (tajrid). Ia menghabiskan hari-harinya dengan puasa, salat dan menjalani puasa-bicara total selama suatu jangka waktu tertentu. Kini, kehadirannya selalu membawa bersamanya kekhidmatan perenungan dan konsentrasi sempurna, sekalipun dalam keadaan ia berbicara.


Allamah Muhammad Husain Thabathaba'i

Allamah Thabathaba'i kembali ke Tabriz pada tahun 1934 dan menghabiskan beberapa tahun yang sunyi di kota itu, mengajar sejumlah kecil murid. Namun ia tetap saja belum dikenal oleh lingkaran keagamaan Persia pada umumnya. Kejadian-kejadian mengerikan Perang Dunia Kedua dan pendudukan Rusia atas Persialah yang membawa Allamah Thabathaba'i dari Tabriz ke Qum (1945). Pada waktu itu, dan seterusnya sampai sekarang, Qum merupakan pusat pengkajian keagamaan di Persia. Dalam sikapnya yang pendiam dan sederhana, Allamah Thabathaba'i mulai mengajar di kota suci ini, memusatkan diri pada tafsir-Quran serta filsafat dan teosofi tradisional, yang selama bertahun-tahun sebelumnya tidak diajarkan di Qum. Kepribadiannya yang penuh daya tarik dan kehadiran spiritualnya segera saja menarik sebagian besar murid yang paling inteligen dan kompeten, dan secara ber­tahap ia menjadikan ajaran-ajaran Mulla Sadra sekali lagi sebagai pokok kurikulum tradisional. Saya masih ingat dengan jelas beberapa kesempatan kuliah umumnya di salah satu masjid-madrasah di Qum, tempat hampir empat ratus murid bersimpuh di kakinya untuk menangguk hikmahnya.

Kegiatan-kegiatan Allamah Thabathaba’i sejak kedatangannya di Qum juga meliputi banyak kunjungan ke Teheran. Setelah Perang Dunia Kedua, ketika Marxisme sedang jadi mode di kalangan sementara pemuda di Qum, dialah satu-satunya ulama yang bersusah payah mempelajari dasar filosofis komunisme dan memberi tanggapan terhadap materialisme dialektika dari sudut pandang tradisional. Hasil usahanya inilah yang kemudian dibukukan dengan judul Ushul-i Falsafah wa Rawisyy-i Ri'alism (Prinsip­Prinsip Falsafah dan Metode Realisme). Di dalamnya ia membela realisme - dalam arti tradisional abad pertengahannya - dalam pertentangannya dengan filsafat-filsafat dialektis. Dia juga me­ngajar sejumlah murid yang termasuk dalam kelompok masyarakat Persia yang berpendidikan modern.(4)

Sejak kedatangannya di Qum, Allamah Thabathaba'i dengan tak kenal lelah terus berupaya untuk menyampaikan hikmah dan pesan intelektual Islam kepada tiga kelompok murid: kepada sejumlah besar murid-murid tradisional di Qum yang sekarang tersebar di seantero Persia dan sampai ke daerah-daerah lain; kepada sekelompok murid terpilih yang diajamya ma'rifat dan tasawuf dalam suatu lingkaran yang lebih akrab, dan yang biasa bertemu pada hari Kamis malam di rumahnya atau di rumah-rumah privat lainnya; dan juga. kepada sekelompok orang Persia yang mem­punyai latar belakang pendidikan modern dan kadang-kadang juga orang-orang non-Persia yang dittemuinya di Teheran. Selama sepuluh tahun terakhir diadakan suatu rangkaian pertemuan secara teratur yang dihadiri oleh sekelompok orang Persia terpilih termasuk, pada musim-musim gugur, Henry Corbin.(5) Dalam pertemuan-pertemuan itu masalah-masalah spiritual dan intelektual yang paling besar dan mendesak diperbincangkan, yang di dalamnya saya biasa bertindak sebagai penerjemah. Selama tahun-tahun itu kami telah mempelajari dari Allamah Thabathaba'i tidak hanya naskah-naskah klasik tentang Hikmah Ilahi dan ma'rifat, melainkan juga seluruh daur yang bisa disebut sebagai ma'rifat komparatif. Di dalamnya naskah-naskah suci agama-agama besar, yang mengandung ajaran-ajaran tasawuf dan ma'rifat, seperti Tao Te Ching, Upanisyad dan Injil Johannes, diperbincangkan dan di­bandingkan dengan tasawuf dan doktrin-doktrin ma'rifat Islam pada umumnya.

Dengan demikian Allamah Thabathaba'i telah memberikan pengaruh yang amat besar, baik di dalam daur tradisional maupun modern, di Persia. Dia telah mencoba untuk menciptakan suatu elite intelektual baru di kalangan kelompok masyarakat berpendidikan modern yang ingin menjadi akrab dengan intelektualitas Islam di samping dengan dunia modem. Banyak murid tradisionalnya yang termasuk dalam kelompok ulama telah mencoba untuk mengikuti teladannya dalam upaya yang amat penting ini. Beberapa muridnya, seperti Sayyid Jalal al-Din Asytiyani dari Universitas Masyhad dan Murtadha Mutahhari dari Universitas Teheran, juga dikenal sebagai sarjana yang mempunyai reputasi istimewa. Allamah Thabathaba'i juga sering berbicara tentang beberapa muridnya yang lain yang memiliki kualitas-kualitas spiritual tinggi tetapi tidak mau menampilkan diri mereka.

Sebagai tambahan bagi suatu program yang amat berat dalam mengajar dan memberikan bimbingan, Allamah Thabathaba'i juga menyibukkan dirinya dengan kerja menulis banyak buku dan artikel yang membuktikan kekuatan intelektual dan keluasan ilmu­nya yang luar biasa di dalam dunia ilmu-ilmu Islam tradisional. Sekarang, di tempat tinggalnya di Qum, sang alim membakti­kan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan Kitab Tafsir Quran yang ditulisnya (6) dan memberikan pengarahan kepada murid-muridnya yang terbaik. Dia bertindak sebagai suatu larnbang dari sesuatu yang paling permanen di sepanjang tradisi kesarjanaan dan ilmu-ilmu tradisional Islam. Kehadirannya meniupkan suatu aroma yang hanya bisa datang dari seseorang yang telah mengecap buah Pengetahuan Ketuhanan. Ia mencontohkan, dalam kepribadiannya, kemuliaan, kerendahhatian dan kecinta­annya kepada kebenaran - yang selama berabad-abad telah menjadi ciri ulama-ulama Muslim terbaik. Ilmunya dan ungkapan­ungkapannya merupakan saksi bagi ilmu Islam sejati - yakni betapa luar biasa, metafisis dan berbedanya dari sedemikian banyak uraian dangkal kaum orientalis atau karikatur yang penuh distorsi dari banyak modernis Muslim. Memang ia tak memiliki kesadaran tentang mentalitas dan sifat dunia modern yang mungkin diperlukan, tetapi hal semacam itu memang tak seharus­nya diharapkan dari seseorang yang pengalaman hidupnya terbatas pada daur lingkaran Persia dan Irak.


Catatan kaki
============
1). Seorang orientalis terkemuka, yang di Indonesia dikenal lewat bukunya yang berjudul Islam, the Straight Path (terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia telah diterbitkan oleh Pustaka Jaya dengan judul lslam Jalan Lurus) - penyunting.

2). Istilah "tradisional" di sepanjang artikel ini mesti tidak diartikan dalam konotasinya yang negatif, rnelainkan sebagai sifat disiplin di bidang ilmu-ilmu agama Islam yang memberikan penekanan pada kombinasi fiqh dan tafsir Al-Quran dengan filsafat, teosofi dan tasawuf - penyunting.

3). Fushush al-Hikam adaiah karya masrerpiece Ibn Arabi yang disebutsebut sebagai Syaikh terbesar dalam bidang tasawuf. buku ini karena keluarbiasaannya, telah diterjemahkan ke berhagai bahasa, antara lain, Inggris, Prancis dan sebagainya - penyunting.

4). Sayyid Husain Nasr sendiri adalah salah seorang murid Allamah Thabathabati. Di bagian lain artikelnya ini ia menulis: "Saya sendiri pernah berguru padanya selama bertahun-tahun dalam bidang filsafat tradisional dan teosofi." - penyunting.

5). Seorang orientalis Prancis terkemuka yang dikenal banyak menulis buku tentang aspek metafisis (tasawuf dan filsafat) Islam, terutama berkenaan dengan Syi'ah. Dia menulis sebuah buku tentang tasawuf ibn Arabi dan, bersama Sayyid Husain Nasr, menulis buku tentang filsafat Islam - penyunting.

6). Sebuah Tafsir Quran yang berpengaruh dengan nama al-Mizan, terdiri atas 21 jilid, masing-masing mencapai ratusan halaman, dikenal sebagai Tafsir Al-Quran dengan Al-Quran - penyunting.

---------------------------------------
Sumber :
Diterjemahkan dari Al-Qur'an fi Al-Islam

Karya Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i,

Terbitan Organisasi Dakwah Islam, Teheran, 1404 H

Penerjemah: A. Malik Madaniy dan Hamim IIyas

Penyunting: IIyas Hasan

(Deagan merujuk kepada edisi Inggrisnya)

Hak terjemahan dilindungi undang-undang

All rights reserved

Cetakan I, Ramadhan 1407 / Mei 1987

Cetakan II, Rajab 1409 / Februari 1990

Cetakan III, Dzulqa'dah 1410 / Juni 1990

Cetakan IV, Sya' ban 1412 / Maret 1992

Cetakan V, Ramadhan 1413 / Maret 1993

Cetakan VI, Jumada Al-'Ula 1414 / November 1993

Cetakan VII, Muharram 1415 / Juni 1994

Cetakan VIII, Muharram 1416 / Juni 1995

Cetakan IX, Ramadhan 1417 / Februari 1997

Diterbitkan oleh Penerbit Mizan

Selengkapnya...

I'jaz al-Quran

BAB 1

Menurut bahasa kata "mu’jizah" berasal dari kata "'ajz" (lemah), kebalikan dari kata "qudrah" (kuasa). Pada dasarnya Mu’jiz itu adalah Allah SWT., yang menyebabkan selain-Nya lemah. Pemberi kekuasaan kepada selain-Nya juga adalah Zat Allah SWT., karena Ia sebagai Penguasa mereka. Sebagai bentuk mubalaghah (penegasan) kebenaran berita, mengenai betapa lemahnya orang-orang yang didatangi Rasul untuk menentang mu’jiz tersebut, maka huruf "ta" marbuthah ditambahkan kepada kata "mu’'jiz" sehingga menjadi "mu’jizah ". Bentuk mubalaghah ini juga terjadi, misalnya pada kata, "'allamah", "nassabah", dan "rawiyah".

Menurut para Mutakallimln (teolog), mukjizat ialah muncul­nya sesuatu hal yang berbeda dengan adat kebiasaan yang terjadi di dunia (dar al-taklif) untuk menunjukkan kebenaran kenabian (nubuwwah) para Nabi.

Al-Thusi mendefinisikan mukjizat dengan terjadinya sesuatu yang tidak biasa terjadi, atau terjadinya sesuatu yang menggugur­kan sesuatu yang biasa terjadi yang disertai dengan perombakan terhadap adat kehiasaan, dan hal itu sesuai dengan tuntutan,

AI-Quran ialah mukjizat abadi Nabi Muhammad saw., yang dengannya seluruh manusia dan jin ditantang untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran tersebut, sebuah atau sepuluh surat yang sama dengan surat yang ada di dalamnya. Para ahli balaghah dan para ahli bahasa Arab di antara mereka ternyata tidak mampu membuat sebuah surat pun yang serupa dengan surat yang ada di dalam Al-Quran sehingga akhirnya mereka menggunakan kekuatan dengan berupaya memerangi Rasulullah, menawarkan jabatan dan harta kepada beliau, bukan membuat sehuah surat yang serupa dengan AI-Quran. Allah SWT. di dalam Kitab-Nya menjelaskan bahwa AI-Quran merupakan mukjizat:

Dan orang-orang kafir Makkah mengatakan: “Mengapa kepadanya tidak diturunkan mukjizat-mukjizat dari Tuhan­nya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat ter­sebut terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata."Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dan ia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Quran itu terdapat rahmat yang besar dan peringatan bagi orang-orang yang ber­iman. (Al-Ankabut: 50-51)

Dengan penjelasan ini, Allah SWT. menegaskan bahwa Al-Quran merupakan ayat yang terang dan mukjizat yang cukup bagi manusia.

Jumhur kaum Muslimin berpendapat bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu ’jiz bi dzatih). Maksudnya, bahwa Al­Quran dengan seluruh yang ada di dalamnya, termasuk struktur kalimat; balaghah, bayan (penjelasan), perundang-undangan (tasyri'), berita-berita gaib dan seluruh persoalan lain yang merupa­kan mukjizat, telah menyebabkan seluruh manusia tidak mampu membuat yang serupa dengannya.

Abu Ishaq Ibrahim Al-Nidzam, seorang Mu'tazilah, dan Al­-Syarif Al-Murtadha, seorang Syi'ah Ja'fari berpendapat bahwa Al-Quran itu mu’jiz bi al-sharfah. Yang dimaksud dengan sharfah adalah bahwa Allah SWT. memalingkan hamba-hamba-Nya dengan menarik kehendak mereka, dan dengan mengelukan lidah-lidah mereka untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran.

Sebenarnya, Al-Quran merupakan mukjizat (mu’jiz bi dzatih), adalah disebabkan ketinggian balaghah, struktur bahasa, bayan, dan perundang-undangan (tasyri')-nya yang adil dan relevan bagi manusia, potensi-potensinya, tujuan penciptaannya yang harmonis dengan hukum alam yang umum, dan juga berita-berita gaibnya yang manusia tidak akan mampu memberitakan hal demikian. Al-Baqilani mengatakan: "Seandainya Al-Quran bukan merupakan mukjizat berdasarkan yang telah kami sifatkan dari segi struktur bahasanya yang mumtani' (tidak mungkin tertandingi), maka kendatipun Al-Quran disusun dengan struktur bahasa yang sangat tinggi dan dengan kefasihan yang sangat tinggi pula, tentu kemukjizatannya akan lebih hebat lagi seandainya mereka dipalingkan untuk membuat yang serupa dengannya, seandainya mereka dicegah untuk menentangnya, serta seandainya anggapan-anggapan mereka dibelokkan dari padanya. Tentu pula hal itu menunjukkan tidak perlunya AI-Quran diturunkan dengan struktur bahasa yang indah, fasih dan menakjubkan. Sebab, seandainya mereka dipalingkan dari anggapan-anggapannya, niscaya orang-orang jahiliah sebelum mereka tidak perlu dipalingkan dari kefasihan, balaghah, keindahan struktur bahasa dan ke­ajaiban susunannya, karena mereka tidak ditantang oleh Al-Quran untuk melakukan yang serupa, di samping hujjah-nya pun tidak selayaknya diungkapkan mereka. Oleh karena itu, tidak pernah dijumpai pembicaraan seperti itu sebelumnya. Hal itu merupakan bukti bahwa apa yang diklaim oleh seseorang yang meyakini adanya sharfah, merupakan suatu kebatilan yang nyata, yang akan mem­batalkan pendapat mereka mengenai adanya sharfah tersebut. Seandainya penentangan itu mungkin, maka kalam bukan merupakan mukjizat. Mukjizatnya justru pada pelarangan, sehingga kalam itu sendiri tidak lebih istimewa dari yang lain. Maka tidak mengherankan apabila dikatakan: ‘Sesungguhnya semua orang akan mampu membuat yang serupa dengan Al-Quran, hanya saja mereka terlambat karena mereka tidak mengetahui bentuk susunan (seperti AI-Quran - penj.), seandainya mereka telah mengetahuinya, pasti mereka akan mampu melakukannya'."

Al-Khithabi menolak pendapat bahwa Al-Quran merupakan mukjizat bi al-sharfah. Beliau mengatakan: "Al-sharfah, merupakan hal yang tidak begitu berbeda dengan i’jaz. Hanya saja, petunjuk ayat membuktikan sebaliknya, yaitu firman Allah SWT.:

Katakanlah: "Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekali­pun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. " (Al-Isra: 88)

Dalam hal demikian, ia menunjuk kepada persoalan yang caranya bersifat takalluf (dibuat-buat) dan diupayakan, dengan cara yang matang dan dilakukan bersama-sama. Dan yang dimaksud dengan al-sharfah seperti yang telah mereka sifatkan tidaklah sejalan dengan sifat ini sehingga hal ini menunjukkan bahwa yang di­maksud adalah sifat yang lain. Wallahu a'lam."

Muhammad bin Amru Al-Razi, dalam tafsimya Al-Kabir, menegaskan bahwa kedua pendapat tersebut - pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat, dan pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran mu’jiz bi alsharfah - satu sama lain menjadi pendahulu di dalam memberikan bukti.

Beliau mengatakan: "Al-Quran, baik ia sendiri merupakan mukjizat atau bukan, adalah mukjizat. Apabila ia merupakan mukjizat maka ia sudah sampai kepada yang dimaksud. Apabila ia bukan merupakan mukjizat, bahkan banyak orang yang mampu untuk menentangnya, dan untuk melakukan hal demikian tidak dipalingkan dan dilarang, maka atas dasar ini tindakan menandingi­nya merupakan sesuatu keharusan dan kelaziman. Dengan ke­tidakmampuan menandingi tersebut, dengan disertai kemungkin­an-kemungkinan, jelas merupakan pembatal terhadap kebiasaan sehingga ia merupakan mukjizat."

Sedangkan penulis .Al-Mizan bi Tafsir Al-Quran berpendapat bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu’jiz bi dzatih). Beliau mengatakan: "Firman Allah SWT.: 'Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al­Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan mendapat­kan pertentangan yang banyak di dalamnya,' jelas merupakan bukti bahwa AI-Quran tidak mungkin dapat ditandingi oleh manu­sia dengan mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya. Wujud Al-Quran itu sendiri yang pada lafaz dan maknanya tidak terjadi pertentangan, itu saja, tidak mungkin dapat ditandingi oleh makhluk untuk membuat kalam yang tidak dikenai pertentangan di dalamnya. Bukan karena Allah memalingkan mereka sehingga mereka tidak bisa menandinginya dengan menunjukkan per­tentangan di dalamnya, dan pendapat mereka yang mengatakan bahwa kemukjizatan AI-Quran itu bi al-sharfah (pemalingan) merupakan pendapat yang tidak bisa dijadikan sandaran."

Al-Rummani Ali bin Isa, seorang Mu'tazilah, di dalam buku­nya Al-Nukat fi /’jaz Al-Quran, juga berpendapat mengenai adanya i’jaz balaghi, juga berpendapat bahwa kemukjizatannya bi al­ sharfah. Pendapat ini diikuti oleh Al-Nadhdham AI-Mu'tazili, Hisyam Al-Quthi, dan Ibad bin Sulaiman. AI-Qadhi Abdut Jabbar Al-Mu'tazili berpendapat bahwa i jaz itu pada kefasihan Al-Quran. Adapun al-sharfah (pemalingan) merupakan hujjah yang lazim bagi yang berpendapat demikian.

Yang dimaksud dengan al-sharfah oleh Mu'tazilah ialah baitwa Allah SWT. memalingkan kehendak mereka untuk me­nandingi AI-Quran.

Meieka berpendapat: "Sekiranya Allah SWT. mengangkat Nabi pada masa kenabian (nubuwwah), dan mukjizatnya terjadi ketika menggerakkan tangannya, melangkahkan kakinya, atau sewaktu duduk di antara kaumnya, kemudian dikatakan kepadanya: 'Apa bukti kebenaranmu?' Beliau menjawab: 'Bukti kebenar­anku ialah bisa menggerakkan tanganku atau menjulurkan kakiku, dan kalian tidak mungkin dapat melakukan seperti yang telah kulakukan.' Andaikan seluruh kaum badannya dalam keadaan sehat, sedikit pun anggota badan mereka tidak cacat. Selanjutnya beliau menggerakkan tangannya atau menjulurkan kakinya, kemudian mereka mulai mau melakukan seperti yang beliau laku­kan, akan tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Semua itu merupakan bukti atas kebenarannya."

Sebenarnya argumentasi mereka yang berpendapat bahwa Al-Quran merupakan rnukjizat bi al-sharfah (pemalingan) seperti itu, pada dasarnya adalah mukjizat dengan halangan yang bersifat eksternal, bukan dari AI-Quran itu sendiri. Halangan eksternal ini bukanlah pendahulu bagi halangan sejati (al-imtina' al-dzati). Bagi mereka yang berpendapat demikian, suatu kalam yang paling tinggi dan yang sebaliknya - dalam balaghah - adalah sama, selama halangan tersebut bersifat eksternal. Selanjutnya, sekiranya yang memalingkan dari luar Al-Quran sendiri, maka orang Arab, seperti Musailamah dan yang lainnya, yang berusaha menandingi Al-Quran, akan gagal dan binasa.

Perlu dijelaskan bahwa antara mukjizat dan mumtani' ada perbedaan. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, mukjizat adalah terjadinya sesuatu yang tidak biasa terjadi atau terjadinya sesuatu yang menggugurkan sesuatu yang biasa terjadi yang disertai dengan perombakan terhadap adat kebiasaan, dan hal itu sesuai dengan tuntutan. Adapun mumtani' ialah sesuatu yang pada hakikatnya ia sendiri bersifat mustahil terjadi, yaitu bahwa ketika akal menggambarkan suatu subtansi mumtani', pada dasarnya, subtansi tersebut mustahil terwujud. Contoh, menggambarkan wujud lingkaran yang diameternya lebih besar dari kelilingnya. Pada dasarnya, ketika akal menggambarkan subtansi tersebut, ia menghukumi bahwa hal itu tidak akan terwujud, seperti mustahil­nya bahwa bagian itu lebih besar dari keseluruhan, dan mustahil­nya dua hal yang kontradiksi bisa bersatu. Contoh-contoh subtansi di atas, pada dasarnya ia sendiri bersifat mumtani' (mustahil ter­wujud). Actapun mukjizat, tidak bersifat mumtani', seperti membekunya air laut sebagai benteng kepada Musa a.s., atau tidak membakarnya api kepada Ibrahim a.s. yang menurut kebiasaan api itu membakar. Semua ini termasuk hukum-hukum alam (al­sunan al-kauniyyah) yang telah diciptakan Allah SWT., hanya saja hukum-hukum alam tersebut tidak mungkin bisa diubah selain oleh Penciptanya, yaitu Allah SWT, karena seluruh manusia tidak akan mampu mengubahnya.

Sungguh kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah (hukum alam). (AI-Ahzab: 62)

Apabila seorang Nabi diminta untuk mendatangkan suatu bukti, maka dengan izin Allah SWT. dia akan mampu mengubah sunnatullah tersebut, karena pada dasarnya sunnatullah itu bisa berubah, hanya saja bagi manusia ia bersifat mumtani' (mustahil berubah). Dengan kata lain, mukjizat itu bersifat mumtani' bagi manusia, akan tetapi dengan izin Allah SWT. bersifat mungkin bagi Nabi. Sedangkan mumtani' sendiri pada hakikatnya bersifat mumtani', dan kekuasaan Allah tidak berkaitan dengan al-mun­tani'at (hal-hal yang bersifat mumtani'). Al-Quran sendiri merupa­kan mukjizat. Artinya, bahwa setiap makhluk mustahil akan mampu membuat vang serupa dengannya. Sedangkan hubungan­nya dengan Allah SWT tentu Ia akan mampu membuat yang serupa dengannya, karena Ia sendiri Mahakuasa atas segala sesuatu.

-------------------------------------
sumber :
Diterjemahkan dari buku aslinya
Min al-I'jaz al-Balaghiy WA al-'Adadiy li al-Qur’an al-Karim,
karya DR. Abu Zahra' An-Najdiy
terbitan Al-Wakalah AI-'Alamiyyah li At-Tawzi, 1990
Penerjemah: Agus Effendi
Penyunting: Tim Redaksi Pustaka Hidayah
Hak terjemahan dilindungi undang-undang
All rights reserved
Cetakan Pertama, Rabi N-Awwal 1412/September 1990
Cetakan Kedua, Syawwal 1416/Maret 1996
Diterbitkan oleh PUSTAKA HIDAYAH
JI. Rereng Adumanis 3l, Sukaluyu
TeIp./Fax. (022) 2507582
Bandung40123

Selengkapnya...

Kata Pengantar

AL-QURAN: MUKJIZAT ABADI

Jalaluddin Rakhmat

Seorang kafir Makkah berkunjung ke Nejed. Ia meninggalkan Nabi Muhammad saw., orang yang sangat dibencinya, menemui Musailamah Al-Kadzdzab, yang juga mengaku sebagai nabi. Musailamah berkata kepadanya: "Apa gerangan yang turun kepada kawanmu akhir-akhir ini?" Amr bin Ash, tamu dari Makkah itu, menjawab: "Telah turun satu surat yang singkat, padat dan indah." "Bagaimana surat itu?", tanya Musailamah. Amr bin Ash kemudian membacakan surat ini:

Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling mewasiatkan kebenaran dan saling mewasiatkan kesabaran.

Sejenak Musailamah tepekur, lalu berkata, "Surat semacam itu turun juga kepadaku." Giliran Amr bertanya, "Bagaimana bunyi surat itu?" Musailamah berkata:

Wahai kelinci, wahai kelinci. Kamu itu cuma dua telinga dan dada. Di sekitarmu lubang galian.

"Bagaimana pendapatmu, hai Amr?" Amr segera menjawab, "Demi Allah, Anda tahu bahwa aku tahu Anda berdusta." (Tafsir Ibn Katsir 4:547).

Amr bin Ash, yang waktu itu belum masuk Islam dan tidak menyukai Nabi Muhammad saw. mengaku dengan jujur bahwa Al-Quran mengandung kata-kata yang singkat dengan kandungan makna yang dalam. Kata-kata itu dirangkai dalam susunan kalimat yang indah. Amr menyebumya suratun wajizatun balaghatun.

Surat "Waktu" yang pendek itu mengajarkan kepada manusia untuk memperhatikan waktu atau tanda-tanda zaman. "Waw qasam" (huruf sumpah) dipergunakan untuk mencengkeram perhatian pendengar. Alangkah dahsyatnya waktu. Peredaran waktu akan meletakkan manusia dalam kerugian. Waktu akan mengauskan manusia. Kecuali mereka yang mengisi waktu itu dengan kehidupan yang bermakna; yakni kehidupan yang berisi iman, amal saleh, dan kerja sama dalam menegakkan kebenaran dan kesabaran. Kata Imam Syafi`i: "Seandainya manusia merenungkan surat ini, cukuplah satu surat ini saja sebagai pedoman manusia." Bandingkan surat "Waktu" ini dengan surat "Kelinci"-nya Musaila­mah. Pedoman hidup apakah yang dapat kita petik dari kisah ke­linci itu. Karena itu, Amr bin Ash segera yakin bahwa Musailamah berdusta.

Namun Musailamah tidak jera. Untuk menandingi surat Al­ Kautsar, ia membuat surat AI-Jamahir:

Sesungguhnya aku telah memberikan padamu orang banyak. Salatlah kepada Tuhan-Mu dan nyatakan secara terbuka.

Musailamah hanya bisa menulis dua ayat saja. Sekarang banding­kan, kekayaan makna pada "Al-Kautsar" (nikmat yang banyak) dengan "AI-Jamahir". Lihat, betapa indahnya hubungan perintah salat dengan perintah berkorban; dan betapa centang-perenang­nya hubungan antara "salat"-nya Musailamah dengan pernyataan terbuka. Perhatikan juga bagaimana Allah menutup surat pendek itu dengan janji yang menggetarkan, "Sesungguhnya musuhmu itulah yang akan binasa."

Saya akan menyerahkan kepada kearifan pembaca untuk membandingkan pembukaan Surat AI-Nazi'at dengan karya Musai­lamah ini:

Demi perempuan-perempuan yang menggiling gilingan. Demi perempuan-perempuan yang mengadon adonan. Demi perem­puan-perempuan yang memasak roti.

Dan inilah pembukaan Surat AI-Nazi'at:

Demi para malaikat yang merenggut nyawa dengan keras. Dan yang menarik nyawa dengan perlahan. Dan yang mela­yang dengan cepat. Dan yang menyusul dengan kencang. Dan yang mengatur segala urusan.

Apa yang dilakukan Musailamah adalah upaya untuk menjawab tantangan AI-Quran. Kepada bangsa Arab, yang waktu itu terkenal piawai dalam menggunakan bahasa, yang melahirkan banyak penyair, Al-Quran menantang mereka berkali-kali. Mula-mula AI-Quran menyuruh mereka membuat kitab yang seperti AI-Quran.

Katakanlah: "Sesungguhnya kalau manusia dan jin itu berkumpul untuk mengadakan yang serupa Quran ini, niscaya mereka tiada akan dapat membuat yang serupa Quran, biarpun sebagiannya menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (Al-Isra' 88).

Ataukah mereka mengatakan: "Dia saja yang membuat-buat Al-Quran itu." Tidak, melainkan mereka yang tidak percaya. Hendaklah mereka mengemukakan perkataan yang serupa dengan itu, bila mereka benar. (Ath-Thur 33-34).

Kemudian, Al-Quran menantang mereka untuk membuat 10 surat seperti surat-surat dalam AI-Quran.

Atau mereka mengatakan: "Dialah yang mengada-adakan Al-Quran. " Katakanlah: “Kemukakanlah sepuluh surat yang diada-adakan itu yang menyamai Al-Quran dan panggillah siapa pun yang sanggup selain Allah, kalau kamu benar. "
(Hud 13 ).

Konon, tiga penyair besar - Abul 'Ala AI-Ma'ri, Al-Mutanab­bi, Ibn al-Muqaffa' - berusaha memenuhi tantangan ini. Tidak sanggup mereka menggubah satu ayat pun, sehingga mereka mematah-matahkan pena dan merobek-robek kertas mereka. Akhirnya Al-Quran menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang seperti Al-Quran:

Dan jika kamu masih ragu-ragu tentang ke­benaran Al-Quran yang Kami turunkan pada hamba Kami (Mu­hammad), cobalah kamu kemukakan sebuah surat seumpama Al­Quran itu dan panggillah pembantu-pembantumu selain Allah, bila kamu benar. Dan kalau kamu tidak bisa membuatnya, dan kamu tidak akan bisa membuatnya, maka jagalah dlrimu dari neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batu. Disediakan untuk orang yang tidak beriman." (Al-Baqarah 23-24).

Untuk menjawab tantangan yang terakhir inilah, Musailamah membuat Surat Kelinci, Surat Jamahir, dan Surat Tukang Adonan. AI-Quran menantang orang Arab supaya membuat "satu surat seumpama Al-Quran" dalam hal diksi (pilihan kata), susunan kalimat (balaghah), dan kandungan maknanya (bayan). Anda melihat Musailamah tidak mampu. Al-Mutanabbi tidak mampu. Penyair-penyair besar sepanjang sejarah juga tidak mampu. Dalam bahasa Arab, tidak mampu itu ‘ajiza. Membuat tidak mampu adalah a'jaza. Sesuatu yang membuat orang tidak mampu disebut mujizat. Proses "men-tidak-mampukan" disebut I’jaz.

Dalam 'Ulum Al-Quran, ada pembahasan mengenai I’jaz al-Quran. Di dalamnya, para ulama Al-Quran membahas keistimewaan-keistimewaan Al-Quran, yang membuat siapa pun tidak akan sanggup menyamainya. Dr. Abu Zahra' AI-Najdiy, pengarang buku yang Anda pegang, menyebutkan beberapa buku yang khusus membahas I’jaz al-Quran. Tidaklah pada tempatnya di sini kita membahas isi buku-buku itu. Cukuplah di sini saya kutipkan penggalan-penggalan pendek dari Sayyid Thabathaba'i dalam Taf­sir Al-Mizan 1:63-73.

I'jaz Al-Quran yang pertama adalah keluasan pengetahuan yang dikandungnya. Sebagaimana Anda ketahui, AI-Quran meliputi berbagai disiplin ilmu, aturan moral, hukum, aqidah dan lain­lain. Tetapi lebih dari itu, dan ini yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab yang lain, pengetahuan Al-Quran tidak pemah "keting­galan zaman". Al-Quran selalu modern. Kata Thabathaba'i, "Al­Quran menegaskan bahwa semua pengetahuan yang dikandung­nya akan tetap berlaku sampai hari akhir; akan terus membimbing umat manusia dan akan selalu relevan dengan kebutuhan manusia dan lingkungannya.... Inilah kitab yang tidak dikenai pembatalan, yang tidak memerlukan perubahan dan penyempur­naan." (AI-Mizan 1:62).

I'jaz AI-Quran yang kedua adalah kepribadian Nabi Muhammad saw. yang menyampaikan AI-Quran ini. "Nabi yang ummi telah membawa Al-Quran yang mu’jiz dalam hal lafal dan maknanya. la tidak pernah belajar dari guru mana pun. Ia tidak pernah ber­guru kepada siapa pun. Ini dinyatakan Allah SWT,

Katakan: “ Jika Allah menghendaki, aku tidak akan membacakannya, kepadamu dan la pun tidak akan mengajarkannya kepadamu. Bukankah aku telah hidup sepanjang usiaku di tengah-tengah kamu. Tidakkah kamu merenungkannya." (Yunus 16).

Nabi saw. telah hidup di tengah-tengah mereka seperti mereka. Selama itu, ia tidak dikenal dalam hal kepandaian dan pengetahuannya. la tidak pernah me­nyampaikan kuliah. Ia tidak menggubah puisi atau prosa. Sebelum ia berusia 40 tahun, dua per tiga dari sejarah hidupnya, ia tidak memiliki keistimewaan dalam sastra dan pengetahuan. Tiba-tiba ia datang membawa apa yang ia bawa. Di hadapan (wahyu Allah) yang disampaikannya, raksasa-raksasa sastra menjadi kecil, lidah­lidah orang-orang fasih menjadi kelu. Ia menyebarkan wahyu itu ke seluruh dunia, tetapi tidak seorang pun yang mampu menda­tangkan yang seumpama itu sepanjang sejarah" (Al-Mizan 1:63).

I'jaz Al-Quran ketiga adalah.kandungan berita gaib di dalam­nya. Thabathaba'i menyebutkan paling tidak empat berita gaib yang dikemukakan AI-Quran: berita tentang nabi-nabi dan umat­umat terdahulu; nubuwat (ramalan) tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang; kenyataan-kenyataan ilmiah yang baru diketahui kebenarannya ribuan tahun setelah Al-Quran itu turun; dan kejadian-kejadian besar yang akan menimpa kaum muslim sepeninggal Rasulullah saw.

I'jaz Al-Quran keempat ialah bersihnya AI-Quran dari perten­tangan di dalamnya. AI-Quran sangat konsisten. Tidak ada diskre­pansi. "Lihatlah Al-Quran. Muhammad saw, menyampaikannya sepenggal demi sepenggal, surat demi surat, atau beberapa ayat dalam satu waktu. Ini berlangsung selama 23 tahun, di berbagai tempat, dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Di Makkah dan di Madinah. Siang dan malam. Dalam perjalanan atau ketika ting­gal di rumah. Di tengah pertempuran atau dalam suasana damai. Selama hari-hari yang sulit dan hari-hari yang menyenangkan. Ketika orang-orang Islam menang dan ketika mereka kalah. Dalam keadaan aman atau bahaya. Al-Quran mengandung segala persoalan, menyingkapkan pengetahuan ruhaniah, mengajarkan akhlak yang mulia, menetapkan hukum dalam segala aspek kehidupan. Dengan mengingat segala faktor ini, tidak satu pun terjadi diskrepansi di dalamnya dalam hal susunan dan maknanya. Dalam AI­Quran banyak ayat yang berulang dan menyerupai satu sama lain. Tidak sedikit pun terdapat pertentangan dalam realitas yang di­ungkapkannya, tidak juga dalam hukum yang ditetapkannya. Setiap ayat menafsirkan ayat yang lain. Sebagian menerangkan bagian yang lain. Setiap kalimat membenarkan kalimat yang lain. Seperti kata Ali bin Abi Thalib k.w., "Sebagian AI-Quran berbicara tentang bagian yang lain. Sebagian menjadi saksi bagi bagian yang lain." (Al-Mizan 1:66).

Terakhir, AI-Quran mengatasi kitab mana pun dalam keindahan maknanya (balaghah). "Bahkan setelah empat belas abad, tidak seorang pun yang mampu membuat yang seumpama Al-Quran.

Mereka yang pernah mencobanya telah dipermalukan dan dicemoohkan. Sejarah telah mencatat beberapa upaya perlawanan ini. Lihatlah Musailamah mencoba menandingi surat Al-Fil:

Gajah. Apakah gajah. Tahukah kamu apakah gajah itu. Yang punya ekor buruk dan taring panjang.

Dalam "ayat" yang lain, yang ia bacakan di hadapan Al-Sajah (pe­rempuan yang juga mengaku sebagai nabi):

Kami memasukkan kepada kamu (perempuan perempuan) se­keras-kerasnya. Dan kami mengeluarkannya sekeras-kerasnya.

Perhatikan kata-kata kotor yang dipergunakannya. Pernah belakangan ini orang Kristen membuat surat untuk menandingi surat Al-Fatihah (Al-Mizan 1:68)

Saya tidak menerjemahkan surat Al-Fatihah tandingan itu. Para pembaca yang mengerti ilmu Balaghah dan ilmu Bayan akan segera menemukan kelemahannya. Walaupun penulis Kristen ini ber­usaha untuk menangkap makna dalam Al-Fatihah, ia kehilangan banyak makna di dalamnya. Pada "ayat" yang pertama -- Al-Hamdu lirrahman -- tidak kita temukan uluhiyah dan rububiyah Allah (yang dinyatakan dalam Allah Rabb) dan kerendahan diri manusia menghadapi Allah (yang dinyatakan dalam Alhamdu lillahi Rabbil alamin).

Walhasil, kata-kata AI-Quran telah dipilih begitu rupa sehing­ga tidak bisa digantikan dengan kata-kata lain, walaupun semakna. Kata-kata itu sudah tepat diletakkan pada kalimat tertentu, pada surat tertentu, karenanya penggunaan kata-kata lain akan menghancurkan makna dan keindahan Al-Quran. Cobalah Anda baca Surat Al-Fatihah tandingan itu. Bandingkan dengan Surat Al­Fatihah yang asli. Anda akan merasakan perbedaan bunyi yang jauh berbeda. Lagi pula, seperti diungkapkan oleh para peneliti AI-Quran belakangan ini, dalam keseluruhan Al-Quran, frekuensi kata-kata itu ternyata menunjukkan hubungan dengan makna kata-kata itu. Inilah yang kemudian disebut sebagai I’jaz ‘adadi (i'jaz dari segi bilangan).

I'jaz Adadi: Adakah hubungannya dengan makna?

Pengarang buku ini menguraikan sejarah perhitungan ber­kenaan dengan Al-Quran sejak masa salaf. Tetapi ia mengakui sangat dipengaruhi oleh hasil penemuan Ir. Abdur Razaq Nawfal dari Mesir. Pada tahun 1975 ia menulis Al-I’jaz al-'Adadi li al­Quran al-Karim. Ia menemukan bahwa ada pasangan kata-kata yang frekuensi penyebutannya sama dalam AI-Quran. Di bawah ini saya kutipkan sebagian:

Pasangan Kata dan jumlah

al-dunya >< al-akhirah berjumlah 115

al-shabr >< al-syiddah berjumlah 102

al-mahabbah >< al-tha'ah berjumlah 83

al-huda >< al-rahmah berjumlah 79

al-salam >< al-thayyibah berjumlah 50

al-‘aql >< al-nur berjumlah 49

al-sulthan >< al-nifaq berjumlah 37

al-raghbah >< al-rahbah berjumlah 8

Muhammad >< al-siraj berjumlah 4

al-malakut >< ruh al-qudus berjumlah 4

Dengan memperhatikan daftar itu, segera Anda menemukan bahwa jumlah yang sama tampaknya menyampaikan hubungan mak­na. Bukankah kita dapat menafsirkan bahwa kehidupan dunia ini harus selalu kita hubungkan dengan kehidupan akhirat, bahwa diperlukan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, bahwa kecintaan kepada Allah itu ditunjukkan dengan ketaatan kepada-Nya, bahwa Allah memberikan petunjuk sebagai ungkapan kasih-Nya, bahwa ada hubungan antara kedamaian dengan kebaikan, bahwa Allah menjadikan akal kita sebagai cahaya, bahwa para penguasa itu bersifat munafiq dan seterusnya.

Terilhami oleh Abdur Razak Nawfal, Abu Zahra' Al-Najdiy mulai melakukan penghitungan kata-kata dalam Al-Quran, dengarkan kisahnya yang mengharukan:

Dalam AI-Quran juga terdapat banyak huruf tawaim dan tanasuq seperti yang dijelaskan oleh Abdul Razaq Naufat dalam bukunya Al-I’jaz AI-‘Adadi. Saya mempelajari buku beliau, juga buku Doktor Rasyad Khalifah. Saya mulai berpikir bahwa selama persoalan tersebut dalam bentuk seperti itu, mengapa tidak mungkin ada bentuk lain yang sama-sama memiliki karakteristik demikian? Maka saya mulai meneliti mutawaim, hubungan di antara huruf-huruf tersebut, atau hubungan antara kata-kata tersebut dengan jumlah. Kemudian saya mencarinya dalam Al-Quran. Setelah saya berusaha keras dengan sering berjaga pada malam hari, maka Allah mem­bukakan rahmat-Nya kepada saya. Rasa senang dan bahagia benar-benar memenuhi jiwa saya setiap kali menemukan hubungan antara jumlah dan kalimat yang disebutkannya dalam jumlah tersebut. Setiap kali saya menemukan sesuatu yang baru sungguh bergetarlah badan saya; hati saya begitu terpana atas mukjizat yang agung ini. Tentunya saya terus ber­harap agar saudara-saudara yang meneliti persoalan ini terus melanjutkan kiprahnya. Semoga Allah mencurahkan cahaya­cahaya baru kepada manusia dalam hal i’jaz Al-Quran Al­Karim. Sungguh Allah Maha Pemberi karunia dan Mahamulia.

Sekarang terserah kepada Anda untuk menafsirkan penemu­annya. Sudah saya tunjukkan kepada Anda bahwa jumlah penye­butan satu kata dalam AI-Quran memberikan petunjuk (isyarat) kepada makna tertentu. Dr. Abu Zahra' Al-Najdiy menambah bukti-buktinya dan Anda diminta untuk melanjutkan penelitian dia. Banyak penemuannya yang menakjubkan. Anda pun boleh jadi memperoleh penemuan-penemuan baru dalam penelitian Anda. Namun perlu Anda catat: yang Anda lakukan adalah upaya untuk membuktikan AI-Quran sebagai mukjizat abadi dan bukan penafsiran Al-Quran (walaupun ada hubungan antara makna de­ngan bilangan).

Saya berjumpa dengan pengarang buku ini dalam sebuah kon­ferensi Islam internasional. Dr. Abu Zahra' menegur saya ketika kami minum kopi di lobbi hotel. Dari perkenalan itu saya tahu ia adalah dosen filsafat di sebuah universitas di Syria. Tetapi waktunya kini lebih banyak dipergunakan untuk meneliti Al-Quran. Apa yang Anda baca sekarang adalah jilid pertama dari buku yang tengah ditulisnya. Ia berjanji untuk mengirimkan buku keduanya, segera setelah saya menyerahkan terjemahan ini kepadanya. Bacalah buku ini. Bersama saya, marilah kita tunggu "kejutan-kejutan" lainnya. Insya Allah, Al-Quran akan tetap kokoh sebagai mukjizat yang dahsyat. Sampai akhir zaman.

-----------------------------------
sumber :
Diterjemahkan dari buku aslinya
Min al-I'jaz al-Balaghiy WA al-'Adadiy li al-Qur’an al-Karim,
karya DR. Abu Zahra' An-Najdiy
terbitan Al-Wakalah AI-'Alamiyyah li At-Tawzi, 1990
Penerjemah: Agus Effendi
Penyunting: Tim Redaksi Pustaka Hidayah
Hak terjemahan dilindungi undang-undang
All rights reserved
Cetakan Pertama, Rabi N-Awwal 1412/September 1990
Cetakan Kedua, Syawwal 1416/Maret 1996
Diterbitkan oleh PUSTAKA HIDAYAH
JI. Rereng Adumanis 3l, Sukaluyu
TeIp./Fax. (022) 2507582
Bandung40123

Selengkapnya...

15 April 2009

Islam dan llmu Pengetahuan

BAB DUA

Pemikiran Barat sekarang ini berada di tengah-tengah peperangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Hampir tidak mungkin pemikir Barat sekarang ini menerima kenyataan bahwa kemungkinan ada pertemuan secara mendasar antara agama dan ilmu pengetahuan.
Injil, yang menjadi kepercayaan orang Nasrani, menyatakan pohon di mana Nabi Adam AS dilarang memakannya adalah pengetahuan. Oleh karena itu, setelah dia memakan buahnya, dia memperoleh pengetahuan tertentu yang mana tidak dia peroleh sebelumnya. Dengan alasan inilah orang Eropa membantah bahwa selama dua abad mereka tidak menerima pengetahuan ilmiah yang datang dari orang Islam.

Gereja menyatakan bahwa pencarian seperti penge­tahuan ilmiah adalah penyebab dosa yang asli. Uskup menggambarkan bukti mereka dari Perjanjian Lama yang menyebutkan bahwa ketika Adam memakan pohon itu, ia mendapat beberapa pengetahuan, Allah tidak menyukainya dan menolak memberinya kemurahan hati. Oleh karena itu, pengetahuan ilmiah menolak sepenuhnya peraturan gereja yang dianggap sebagai hal yang tabu. Akhirnya, ketika pemikir bebas dan ilmuwan Barat sanggup mengatasi kekuatan gereja, mereka membalas dendam dengan mencari petunjuk yang berlawanan dan menekan beberapa kekuatan agama. Mereka beralih kepada hal-hal yang berlawanaan untuk mengatasi kekuatan gereja dan mengurangi pengaruhnya kepada hal yang sempit dan membatasi pada sudut-sudut tertentu.

Oleh karena itu, jika Anda membicarakan persoalan agama dan ilmu pengetahuan dengan pemikir Barat, dia benar-benar akan keheranan. Mereka tidak tahu Islam. Mereka tidak mengetahui bahwa Islam menjunjung tinggi status ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu, menghormati mereka sebagai saksi setelah malaikat yang berhubungan dengan fakta baru tiada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan kepada kita:

"Tuhan menyatakan, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia, dan malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu yang tegak dengan keadilan. " (QS AIi Imran : 18)

Dan Allah Yang Maha Agung dan Maha Muha berfirman kepada kita:

"Oleh sebab itu, ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah ".
(QS Muhammad : 19)

Telah diketahui dari al-Quran bahwa Nabi Adam AS diistimewakan melebihi malaikat dengan kebaikan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya. Kisah dari al-Quran menyangkal Injil yang menyebutkan orang Islam dianggap menyimpang. Menurut al-Quran, kenyataan bahwa Nabi Adam diberi pengetahuan adalah sebuah tanda kehormatan dan bukan karena pengusirannya dari surga. Oleh karena itu, jika seseorang membicarakan Islam dan ilmu pengetahuan dengan para pemikir Barat, mereka cenderung mengharapkan argumen yang sama dengan apa yang ada dalam budaya dan agama mereka. Itulah mengapa mereka memberi reaksi dengan keterkejutan ketika mereka ditunjukkan dengan fakta yang jelas sekali dari al-Quran dan Sunnah.

Di antara pemikir Barat yang menampakkan keterkejutannya itu adalah Prof. Dr. Joe Leigh Simpson, Ketua jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan Pakar Molecular dan Genetika Manusia, Baylor College Medicine, Houston. Ketika kami pertama kali bertemu dengannya, Profesor Simpson menuntut pembuktian al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, kami sanggup menghilangkan kecurigaannya. Kami menunjukkan kepadanya sebuah naskah garis besar perkembangan embrio. Kami membuktikan kepadanya bahwa al-Quran menjelaskan kepada kita bahwa turunan atau hereditas dan sifat keturunan atau kromosom yang tersusun hanya bisa terjadi setelah perpaduan yang berhasil antara sperma dan ovum. Sebagaimana yang kita ketahui, kromosom-kromosom ini berisi semua sifat-sifat baru manusia yang akan menjadi mata, kulit, rambut, dan lain-lain.

Oleh karena itu, beberapa sifat manusia yang tersusun itu ditentukan oleh kromosomnya. Kromosom-kromosom ini mulai terbentuk sebagai permulaan pada tingkatan nutfah dari perkembangan embrio. Dengan kata lain, ciri khas manusia baru terbentuk sejak dari tingkatan nutfah yang paling awal. Allah Yang Maha Agung dan Yang Maha Mulia berfirman di dalam Al-Quran:

"Celakalah kiranya manusia itu! Alangkah ingkarnya (kepada Tuhan). Dari apakah dia di­ciptakan? Dari setetes air mani. (Tuhan) menciptakannya dan menentukan ukuran yang sepadan dengannya. " (QS Abasa : 17-19)

Selama empat puluh hari pertama kehamilan, semua bagian dan organ tubuh telah sempurna atau lengkap, terbentuk secara berurutan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada kita di dalam hadisnya: "Setiap dari kamu, semua komponen penciptamu terkumpul dalam rahim ibumu selama empatpuluh hari." Di dalam hadis lain, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Ketika setetes nuftah telah melewati 42 malam, Allah menyuruh seorang malaikat ke rahim perempuan, yang berkata: `Ya Tuhan! Ini laki­laki atau perernpuan?' Dan Tuhanmu memutus kan apa yang Dia kebendaki. "

Profesor Simpson mempelajari dua hadis ini secara intensif, yang mencatat bahwa empat puluh hari pertama itu terdapat tingkatan yang dapat dibedakan secara jelas atau embriogenesis. Secara khusus, Dia dibuat kagum dengan ketelitian yang mutlak dan keakuratan ke­dua hadis tersebut. Kemudian dalam salali satu konferensi yang dihadirinya, dia memberikan pendapat sebagai berikut: "Dari kedua hadis yang telah tercatat dapat membuktikan kepada kita gambaran waktu secara spesifik perkembangan embrio sebelum sampai 40 hari. Terlebih lagi, Pendapat yang telah berulang-ulang dikemukakan pembicara yang lain pagi ini. bahwa kedua hadis ini telah menghasilkan dasar pengetahuan ilmiah yang mana rekaman mereka sekarang ini didapatkan".

Profesor Simpson mengatakan bahwa agama dapat menjadi petunjuk yang baik untuk pencarian ilmu pengetahuan. Ilmuwan Barat telah menolak hal ini. Seorang ilmuwan Amerika mengatakan bahwa agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Dengan analogi, jika Anda pergi ke suatu pabrik dan Anda berpedoman pada mengoperasikan pabrik itu, kemudian Anda akan paham dengan mudah bermacam-macam pengoperasian yang berlangsung di pabrik itu. Jika Anda tidak memiliki pedoman ini, pasti tidak memiliki kesempatan untuk memahami secara baik variasi proses tersebut. Profesor Simpson berkata: "Saya pikir tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama, tetapi pada kenyataannya agama dapat menjadi petunjuk ilmu pengetahuan dengan tambahan wahyu ke beberapa pendekatan ilmiah yang tradisional. Ada kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid, yang mana al-Quran mendukung ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah."

Inilah kebenaran. Orang-orang Islam tentunya dapat memimpin dalam cara pencarian ilmu pengetahuan dan mereka dapat menyampaikan pengetahuan itu daIam status yang sesuai. Terlebih lagi orang Islam mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan itu sebagai bukti keberadaan Allah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia untuk menegaskan kerasulan Nabi Muhammad SAW

Allah berfirman di dalam al-Quran:

"Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. " (QS Fushshilat : 53)

Setelah menyadari melalui beberapa contoh keajaiban al-Quran secara ilmiah yang telah diketahui berhubungan dengan komentar yang objektif dari para ilmuwan, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:

Dapatkah hal ini mejadi sebuah kejadian yang kebetulan bahwa akhir-akhir ini penemuan informasi secara ilmiah dari lapangan yang berbeda yang tersebutkan di dalam al-Quran yang telah turun pada 14 abad yang lalu?

Dapatkah al-Quran ini ditulis atau dikarang Nabi Muhammad SAW atau manusia yang lain?

Hanya jawaban yang mungkin untuk pertanyaan itu bahwa al-Quran secara harfiah adalah kata-kata atau firman Allah yang diturunkan kepadanya. Al-Quran adalah perkataan yang harfiah dari Allah yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang melalui malaikat Jibril. Al-Quran ini dihapalkan oleh Nabi Muhammad SAW yang kemudian didiktekan kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat inilah yang selanjutnya secara bergiliran menghapalkannya, menulis ulang, dan memeriksa/meninjau lagi dengan Nabi Muhammad SAW

Terlebih lagi, Nabi Muhammad SAW memeriksa kembali al-Quran dengan malaikat Jibril sekali setiap bulan Ramadhan dan dua kali di akhir hidupnya pada kalender Hijriah yang sama. Sejak al-Quran diturunkan sampai hari ini, selalu ada banyak orang Islam yang menghapalkan semua ayat al-Quran surat demi surat. Sebagian dari mereka ada yang sanggup menghapal al-Quran pada waktu berumur 10 tahun. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tidak ada satu surat pun di dalam al-Quran yang berubah selama berabad-abad sampai sekarang.

Al-Quran telah diturunkan 14 abad yang lalu menyebutkan fakta yang bacu ditemukan akhir-akhir ini yang telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Hal ini membuktikan tidak ada keraguan bahwa al-Quran adalah firman yang harfiah dari Allah, yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar nabi dan utusan yang diturunkan Allah. Hal ini adalah di luar alasan bahwa setiap manusia 14 abad yang lalu telah mengetahui beberapa fakta ini yang ditemukan atau dibuktikan akhir-akhir ini dengan peralatan canggih dan metode yang rumit.

------------------------------------------------
sumber :
BUKTI KEBENARAN QURAN
Penulis : Abdullah M. al-Rehaili
Penerjemah : Purna Sofia Istianati
Penyunting : Okkie F. Muttaqie
Sampul dan isi : Aris Sunandar
Hak Penerbitan pada P A D M A
Cetakan I, Shafar 1424 H/April 2003
P A D M A
Nyutran MG II/1465-A, Yogyakarta - 55151
Telp. (0274) 413708, Faks. (0274) 413732

Selengkapnya...

Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?

BAB SATU


Al-Quran adalah firman Allah sebagai sumber utama untuk setiap keyakinan dan ibadah orang Islam. Hal ini merupakan sebuah peraturan untuk semua subjek yang berhubungan dengan manusia, kebijakan, ajaran, ibadah, jual-beli, hukum, dan lain-lain. Akan tetapi yang Paling utama adalah hubungan antara Allah dan makhluk Nya. Pada saat yang sama, al-Quran juga memberikan pedoman dan ajaran secara mendetail tentang kemasyarakatan, bergaul atau berperi laku dengan sesama manusia dan sistem ekonomi secara adil.

Mushaf al-Quran diturunkan kepada Nabi Muham­mad SAW dalam bahasa Arab. Sehingga banyak terjemahan al-Quran, baik yang diterjemahkan ke daiam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada al-Quran lain atau versi lain al-Quran selain al-Quran itu sendiri. Al-Quran tetap eksis hanya dalam bahasa Arab sejak diturunkan.

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Jazirah Arab, tahun 570 M. Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir dan sebentar kemudian ibunya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh pamannya, salah satu orang yang dihormati di suku Quraisy. Dia diasuh dalam keadaan buta huruf tidak dapat membaca atau menulis dan tetap dengan keadaan demikian sampai meninggal. Begitu beliau tumbuh dewasa, dia terkenal sebagai seorang yang jujur, terpercaya, dermawan, dan tulus hati. Karena dia orang yang dapat dipercaya, dia mendapat julukan al-Amin.

Nabi Muhammad SAW sangat tafakur dan dia sangat dibenci oleh masyarakat yang menyembah berhala sepanjang dekade. Pada waktu berumur empat puluh tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berlangsung selama 23 tahun dan terkumpul dalam sebuah mushaf yang terkenal dengan nama al-Quran.

Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad SAW yang juga dijadikan sumber kedua. Akan tetapi, pernyataan ini tidak dijadikan susunan kata secara langsung dari Allah. Sesegera mungkin dia mulai menyampaikan al-Quran dan mengajarkan kebenaran yang telah Allah turunkan kepadanya, dia dan pengikutnya yang masih sedikit mendapat penyiksaan dari orang-orang kafir. Penganiayaan itu semakin berat sampai tahun 622 M, dimana Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah.

Hijrah ini dari kota Makkah ke kota Madinah, sekitar 400 kilometer ke arah utara. Peristiwa hijrah ini lantas dijadikan sebagai pedoman kalender Hijriah.

Setelah beberapa tahun, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sanggup untuk kembali ke Makkah di mana mereka memaafkan musuh-musuhnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal pada umur 63 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh ke Jazirah Arab. Dan sampai berabad-abad sepeninggainya, Islam telah menyebar ke Barat sampai ke Spanyol dan ke Timur sejauh Cina.

Di antara alasan-alasan mengapa Islam cepat berkembang dan menyebar karena Islam mengajarkan kebenaran dan perdamaian. Islam memiliki keyakinan, mengajarkan, dan merupakan agama tauhid, yaitu yang hanya menyembah satu tuhan, satu-satunya Tuhan yang patut disembah.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang memiliki sifat jujur, adil, murah hati, selalu mengasihi, dan pemberani. Dia menghilangkan semua tindak kejahatan dan berusaha sejauh mungkin semata-mata demi agama Allah dan pahala-Nya di akhirat nanti. Semua urusan dan perbuatannya dia sandarkan pada Allah.

------------------------------------------------
sumber :
BUKTI KEBENARAN QURAN
Penulis : Abdullah M. al-Rehaili
Penerjemah : Purna Sofia Istianati
Penyunting : Okkie F. Muttaqie
Sampul dan isi : Aris Sunandar
Hak Penerbitan pada P A D M A
Cetakan I, Shafar 1424 H/April 2003
P A D M A
Nyutran MG II/1465-A, Yogyakarta - 55151
Telp. (0274) 413708, Faks. (0274) 413732




Selengkapnya...

Jadilah Penerang Bagi Orang Lain "BLOG MAS CAHYO" 'HOME,FIKIH,HADIS,AL-QURAN,SHALAT,OASE ISLAM,DAN TUTORIAL'

Konsultasi Skripsi

RPP - SILABUS

Ebook CHM Murah

Tausiyah


Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri turus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5)
Allah Ta'ala berfirman pula:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Samasekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang kurban itu, tetapi akan sampailah padaNya ketaqwaan dan engkau sekalian." (al-Haj: 37)
Allah Ta'ala berfirman pula:
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
"Katakanlah - wahai Muhammad ,sekalipun engkau semua sembunyikan apa-apa yang ada di dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah." (ali-lmran: 29)

Followers

BLOG MAS CAHYO Headline Animator

Buku Tamu

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Chatbox

 

Copyright © 2009 by BLOG MAS CAHYO

HEAD LINE NEWS BLOG MAS CAHYO | HOME FIKIH HADIS AL-QURAN FATWA OASE ISLAM DOWNLOAD TUTORIAL